Bisnis

World Bank : Indonesia Berada di Tengah Ancaman Capital Outflow – Bisnis.com


Bisnis.com, JAKARTA–Di tengah perang dagang yang terus berlanjut antara AS dan China, potensicapital outflowsemakin besar dan berpotensi meningkatkan suku bunga acuan serta menimbulkan depresiasi lebih dalam atas nilai tukar rupiah.

- Advertisement -

Hal ini disampaikanWorld Financial institutionpada September 2019 dalam laporan berjudulWorld Financial Dangers and Implications for Indonesia.

Ancaman daricapital outflowsemakinpressing diperhatikan mengingatfresh myth deficit(CAD) Indonesia per kuartal II/2019 mencapai US$8,4 miliar atau 3 persen dari PDB.

World Financial institution memproyeksikan CAD Indonesia pada akhir tahun bakal mencapai US$33 miliar. Adapun penanaman modal asing (PMA) menuju Indonesia baru mencapai US$22 miliar, sedangkan penanaman modal oleh Indonesia di luar negeri baru mencapai US$5 miliar dalam setiap tahunnya.

- Advertisement -

Dengan ini, Indonesia membutuhkancapital inflowsebesar US$16 miliar dalam rangka menutup defisit. Kebutuhancapital inflowbisa lebih tinggi apabilacapital outflowmemang benar-benar terjadi.

Baca Juga:  Indonesia Jadi Data Center Google, Kemenkominfo Siap Akselerasi 1.000 Startup - WartaEkonomi.co.id

Ekonom Heart of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai seharusnya CAD didominasi oleh PMA yang jauh lebih bisa mendorong perekonomian dibandingkan dengan investasi portofolio.

Meski demikian, Yusuf tetap menilai bahwa CAD merupakan tolak ukur stabilitas ekonomi yang penting.

“Di samping itu kita perlu perhatikan juga perkembangan neraca perdagangan, karena surplus di neraca dagang ini yang kerap menolong agar defisit CAD tidak terlalu melebar,” ujar Yusuf, Kamis (5/9/2019).

Baca Juga:  Nilai Tukar Petani Naik 0,63% ke 103, Apa Artinya? - detikFinance

Di lain pihak, Peneliti Insitute for Style of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira menilai Indonesia baru bisa tidak terlalu memikirkan CAD apabila PMA yang masuk menghasilkan industri yang berorientasi ekspor.

Hingga saat ini, industri yang masuk di Indonesia masih berorientasi pasar domestik. “Kalau pasarnya di dalam negeri, bahan baku impor yang naik akan memperburuk struktur ekonomi dalam jangka panjang,” ujar Bhima.

PMA di Indonesia pun masih tergolong kurang menarik karena adanya berbagai macam hambatan.

Indonesia masih belum termasuk dalamglobal offer chainterutama karena berbelitnya proses perizinan untuk relokasi industri manufaktur.

Sistem perizinan yang tumpang tindih antara pusat dan daerah menjadi penyebab, terbukti dengan perizinan OSS yang masih terhambat perizinan di daerah.

Baca Juga:  Wow, Jadi Segini Bayaran Buzzer Politik di Indonesia? - CNBC Indonesia

Bhima juga menyebutkan bahwa biaya logistik di Indonesia cukup besar, berkisar pada 22 hingga 24 persen terhadap PDB. “Artinya seperempat biaya sebuah produk sudah habis untuk ongkir [ongkos kirim] sendiri. Infrastruktur industri masih tertinggal, belum proses bea cukai yang lama,” ujar Bhima.

Terkahir, tenaga kerja Indonesia tidak memilikiskillyang mumpuni sehingga tidak kompetitif pada level global. Namun, di satu sisi Indonesia cenderung mengandalkan upah tenaga kerja yang rendah untuk meningkatkan daya saing pasar tenaga kerja.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
world bank

Sumber

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close