Beranda » Berita Terkini » Samad: Pansel KPK Lempar Bola Panas pada Presiden – BeritaSatu

Samad: Pansel KPK Lempar Bola Panas pada Presiden – BeritaSatu

by Derian Wiranto
Samad: Pansel KPK Lempar Bola Panas pada Presiden – BeritaSatu


Jakarta, Beritasatu.com– Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menilai Panitia Seleksi (Pansel) Calon Pimpinan (Capim) KPK telah melempar bola panas kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dengan menyerahkan 10 nama kandidat yang menuai polemik dan kegaduhan di masyarakat. Hal ini lantaran kandidat yang diserahkan kepada Jokowi, terdapat nama-nama yang dinilai bermasalah.

“Menurut saya pansel ini memberikan bola panas pada Presiden. Seharusnya tidak seperti itu. Pansel seharusnya betul-betul menyaring orang-orang yang berkualitas secara integritas. Ini catatan saya,” kata Abraham Samad kepadaSP,Selasa (3/9/2019).

Samad menyatakan kegaduhan seperti sekarang ini tidak terjadi saat dirinya mengikuti proses seleksi Capim KPK pada 2011 silam. Dia menyatakan, kegaduhan yang terjadi saat ini lantaran pansel tidak menangkap aspirasi internal atau para pegawai KPK dan tokoh masyarakat. Kritik yang mengalir deras ke pansel pada intinya menginginkan pemberantasan korupsi terus berjalan dan KPK dipimpin oleh orang-orang yang berkualitas secara integritas. “Sebenarnya itu intinya. Karena aspirasi itu tidak ditangkap maka terjadi kegaduhan seperti ini. Kita lihat hasil dari pansel itu tidak mencerminkan aspirasi yang berkembang bahkan melawan kemauan publik. Sehingga terjadi seperti sekarang ini,” kata Abraham Samad.

Baca Juga:  Duduk Perkara YouTuber Pukuli Kakeknya, Direkam Sepupu Kelas 5 SD - Kompas.com - KOMPAS.com

Samad menekankan, capim yang dipilih pansel seharusnya tidak lagi berbicara mengenai kualitas kemampuan. Menurutnya, ketika seorang capim KPK dinyatakan lulus persyaratan administrasi yang diatur dalam UU nomor 30 tahun 2002 tentang KPK, seperti berijazah Sarjana Hukum atau sarjana lain yang memiliki keahlian dan pengalaman 15 tahun dalam bidang hukum, ekonomi, keuangan dan perbankan, perdebatan mengenai kualitas kemampuan sudah selesai. Justru kata Samad, pansel seharusnya mencari figur yang berkualitas secara integritas.

“Yang ini jadidisciplinekualitas integritas karena modal utama, modal dasar dan modal satu-satunya orang bisa duduk jadi Komisioner KPK adalah kualitas integritasnya. Integritasnya harus paripurna. Tidak boleh biasa-biasa. Kalau ada pendapat mengatakan susah. Nggak juga. Masa anda bilang begitu. Itu meremehkan bangsa Indonesia. Saya yakin rakyat Indonesia masih ada yang punya kualitas bagus,” kata Abraham Samad.

Baca Juga:  Abraham Samad Duga Revisi UU KPK Usulan Taufiequrachman Ruki Nasional • 07 September 2019 13:46 - CNN Indonesia

Samad menekankan kinerja Pansel Capin KPK Jilid V tidakon the video displaysehingga menghasilkan capim KPK yang integritasnya dipertanyakan publik. Bahkan, Samad menyatakan, hasil kerja pansel cacat yuridis. Hal ini lantaran pansel mengabaikan syarat capim untuk melaporkan hartanya. Padahal, salah satu syarat capim KPK yang tercantum dalam UU KPK adalah mengumumkan kekayaannya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku. “Itu undang-undang yang mengatakan begitu. Undang-undang loh ya. Tapi itu tidak menjadi syarat utama sehingga orang bisa tidak memasukkan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara). Berarti apa? Pansel sudah bekerja menyalahi UU. Kalau inputnya sudah salah, bagaimana outputnya bisa menghasilkan sesuatu yang bagus. Karena dia sudah cacat yuridis maka hasilnya pun seperti sekarang ini, cacat yuridis dan menimbulkan kegaduhan,” kata Abraham Samad.

Untuk itu, Samad berharap, Presiden Jokowi berani mengambil keputusan untuk menyelamatkan agenda pemberantasan korupsi. “Presiden harus berani mengambil satu keputusan. Apakah Presiden berani mengambil satu keputusan untuk menyelamatkan agenda pemberantasan korupsi,” kata Abraham Samad.

Baca Juga:  Ini Sumpah yang Diucapkan Jokowi-Ma'ruf Saat Dilantik - Detiknews

Presiden, kata Samad bisa saja mencoret satu atau dua nama yang dinilai bermasalah dan mengirimkan delapan atau sembilan kandidat lainnya untuk mengikutifit and ethical test.Menurutnya, hal tersebut tidak menyalahi aturan. Namun, Samad mengakui, keputusan tersebut akan menimbulkan kegaduhan baru. “Sebenarnya bisa saja dan tidak cacat, tapi pasti menimbulkan perdebatan dan polemik atau istilah presiden mungkin menimbulkan kegaduhan. Saya lebih melihat bola panas ini dilempar oleh pansel. Kasihan Presiden tugasnya banyak. Dimakan mati bapak tidak dimakan mati mama,” ungkap Abraham Samad.

Selain Presiden, harapan publik berada di pundak anggota Komisi III DPR yang akan menguji sepuluh kandidat. DPR diharapkan menangkap aspirasi publik dengan mencoret nama-nama kandidat bermasalah. “Kalau tidak mendukung agenda pemberantasan korupsi, saya pikir ini akan berjalan terus. Dan menghasilkan capim yang punya kualitas integritas cacat correct,” kata Abraham Samad.

Sumber: Suara Pembaruan

Sumber

Artikel Terkait

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More