Bisnis

Pengembang Properti: Bunga KPR RI Seharusnya Single Digit! – CNBC Indonesia


Jakarta, CNBC Indonesia– Pengembang properti di Tanah Air meminta financial institution-financial institution nasional menurunkan suku bunga Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Jika ini tak dilakukan, akan sulit untuk meningkatkan penjualan properti nasional.

- Advertisement -

Wakil Ketua Umum Staunch Estat Indonesia (REI) Bidang Properti, Regulasi dan Perundang-undangan Ignesjz Kemalawarta mengatakan idealnya suku bunga KPR di Indonesia saat ini pada kisaran 9%-10%. Selanjutnya secara tiring bisa turun lebih rendah lagi sama seperti bunga KPR di negara-negara tetangga pada kisaran 4%-8%.

“Financial institution seharusnya sudah menurunkan suku bunga, karena Financial institution Indonesia (BI) sudah beberapa kali menurunkan suku bunga. Idealnya bunga kitasingle digitlah, 9%-10%,” kata Ignesjz, kepada CNBC Indonesia, Rabu (25/09/2019).

Baca Juga:  Di Pameran Properti IPEX, Ada Rumah Rp 140 Jutaan - Kompas.com - Properti Kompas.com

Ignesjz menambahkan, sudah seharusnya perbankan nasional menurunkan bunga KPR karena tingkatsafe ardour margin(NIM) perbankan Indonesia tinggi, lebih dari 5%.

- Advertisement -

“Kami menunggu bagaimana pemerintah bisa mendorong bunga KPR itu bisa turun,” tambah Ignesjz.

Tahun ini, BI telah tiga kali berturut-turut menurunkan suku bunga sebesar 75 bps, saat ini suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Price sebesar 5,25%.

BI sebelumnya juga berharap, perbankan juga akan menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, menurunnya suku bunga yang setelah tiga kali turun berturut-turut, akan membuat financial institution-financial institution bisa menambahkan kapasitasnya dalam menyalurkan kredit. Selain itu, juga akan meningkatkan permintaan kredit dan pembiayaan.

Baca Juga:  Bodi Lancip dan Lebih Ramping, Harga Honda Supra GTR 150 2019 Tergantung Warna - Semua Halaman - Motor Plus

“Sehinggaexpectdansupplyakan mendorong kredit dan pembiayaan. Memang kita harapkan financial institution-financial institution juga akan menurunkan suku bunga deposito dan kreditnya,” ujar Perry saat melakukan konferensi pers di BI, Kamis (19/9/2019).

Apabila perbankan bisa menurunkan bunga kredit dan depositonya, lanjut Perry, tentu dapat mendorong penyaluran kredit. Meskipun akan membutuhkan waktu. Tapi, Perry meminta agar secepatnya dilakukan.

Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi akan tumbuh positif seiring meningkatnya permintaan kredit.

“Tapi jangan lama-lama. Supaya tidak hanya kapasitas kredit naik, permintaan kredit juga naik, sehingga investasi naik, konsumsi naik. Pertumbuhan ekonomi naik,” paparnya.

Baca Juga:  BUMD Jasa Sarana Raih Pendanaan Proyek Infrastruktur Rp1 Triliun - ayobandung.com

Financial institution Indonesia mencatat bunga kredit sejak Desember 2018 sampai dengan Juni 2019, sudah turun 18 foundation point (bps). Sementara pada Juli 2019 sampai Agustus 2019, sudah turun 4 bps.

“Kita mengharapkan lebih turun lagi. Dan lebih cepat lagi, supaya ekonomi terus bergerak,” kata Perry.

Adapun berdasarkan records Statistik Perbankan Indonesia (SPI) yang diterbitkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), per Juni 2019, kredit financial institution untuk konsumsi telah mencapai 11,57%, kredit financial institution untuk investasi sebesar 10,24%, dan kredit untuk modal kerja sebesar 10,42%.

(hps/tas)

Sumber

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close