Kesehatan

Pendekatan Multi Sektoral Wujudkan Indonesia Bebas Rabies – Berita – Rakyat Merdeka RMCO.ID – The Political News Leader


berita/max/3a461369ef4f38ac1b382e85ef5fc323.jpg’, ‘Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Rabies Sedunia di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/9). (Foto: Humas Kementan)’)”>

Klik untuk perbesar
Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan I Ketut Diarmita saat menghadiri Puncak Peringatan Hari Rabies Sedunia di Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/9). (Foto: Humas Kementan)

- Advertisement -
RMco.id  Rakyat Merdeka –Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Kementerian Pertanian (Kementan) bersama kementerian terkait berkolaborasi dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya rabies melalui edukasi dan sosialiasi yang intensif. Menurut Dirjen PKH, I Ketut Diarmita, pencegahan serta pengendalian rabies menjadi masalah bersama yang memerlukan pendekatan multisektoral untuk penanganannya, karena rabies merupakan salah satu zoonosis utama dan selalu menjadi masalah kesehatan baik kesehatan hewan maupun masyarakat.

“Berbagai program pencegahan, pengendalian, dan pemberantasan rabies pun menjadi tanggung jawab bersama khususnya instansi yang menangani aspek kesehatan, instansi yang menangani kesehatan hewan dan pemerintah daerah yang mengkoordinir masyarakat” ungkap Ketut saat Puncak Peringatan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day/WRD) di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (28/9). Acara dihadiri lebih dari 500 orang peserta dari seluruh Indonesia dan perwakilan kementerian terkait.

Baca Juga:  BMW Motorrad Pendekatan ke Orang Kaya di Jakarta Barat - Kompas.com - KOMPAS.com

Acara Hari Rabies Sedunia ini dilaksanakan oleh Ditjen PKH, Kementerian Pertanian bersama Pemerintah Provinsi NTB dan mitra dari Kementerian Koordinator Pemberdayaan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Kesehatan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dan didukung oleh Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) dan Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

- Advertisement -

Berita Terkait :Manfaatkan Lahan Tidur, Petani Cilincing Produksi Cabe untuk Pasok Kebutuhan DKI

Menurut Ketut, tema nasional yang diangkat pada tahun ini ialah “Vaksinasi Tuntas, Rabies Bebas” yang merupakan turunan dari tema world yakni “Vaccinate to Receive rid of”. Tema ini mengandung pesan bahwa vaksinasi merupakan cara terbaik untuk bisa membebaskan Indonesia dari Rabies, khususnya pada wilayah-wilayah yang masih endemis Rabies. 


Lanjut Ketut, terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya kasus rabies pada hewan dan manusia di suatu daerah. Yakni pertama kesadaran masyarakat dalam memelihara hewan yang baik dan benar untuk vaksinasi rutin, kedua pengetahuan masyarakat tentang bahaya rabies, ketiga kesadaran dan kemauan masyarakat untuk melaporkan kasus gigitan hewan penular rabies ke fasilitas kesehatan. Keempat, kesadaran masyarakat untuk segera untuk mendapat pengobatan sesuai SOP setelah digigit hewan penular rabies. Kelima, perpindahan penduduk dan lalu lintas penduduk dengan membawa hewan peliharaan dari satu wilayah ke wilayah lainnya.

Baca Juga:  BJ Habibie, Pendekatan "Ajaib", dan Krisis Ekonomi 1998 - Kompas.com - KOMPAS.com

Untuk dapat mencegah, mengendalikan maupun memberantas rabies pada hewan, maka kebijakan dan strategi nasional yang dilaksanakan melalui pelaksanaan gerakan vaksinasi massal pada Hewan Penular Rabies (HPR) secara berkelanjutan, tindakan untuk mengendalikan populasi anjing, pengaturan atau pengawasan perdagangan dan lalu lintas anjing serta strategi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) kepada masyarakat.

Berita Terkait :Angkat Pamor Produk Hortikultura, Kementan Kembangkan Model Desa Pertanian Organik

“Melalui sosialisasi dan edukasi diharapkan dapat memberikan pemahaman tentang rabies dan pentingnya kemitraan dengan melibatkan komunitas, masyarakat sipil, pemerintah dan sektor non pemerintah serta mitra global” tutur Ketut.

Senada dengan Ketut, Direktur Jenderal Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono mengungkapkan Rabies masih bisa menjadi ancaman bagi keselamatan manusia, selama hewan penular yang ada masih terinfeksi oleh virus penyebab Rabies. Di berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia, sekitar 98% kasus Rabies pada manusia terkait dengan gigitan anjing sehingga jika tidak ditangani dengan segera, virus rabies menginfeksi sistem saraf pusat, yang menyebabkan penyakit pada otak dan mematikan pada manusia. Namun, ia menegaskan bahwa masalah Rabies pada manusia dapat ditekan sampai nol, bila Rabies pada HPR dapat dicegah dan dikendalikan.

Baca Juga:  Pendekatan Baru Yamaha Bikin Valentino Rossi Senang - detikSport

“Seperti halnya penanggulangan semua zoonosis (penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya), penanggulangan Rabies sangat ditentukan oleh keberhasilan penerapan konsep One Health, yaitu penanggulangan masalah zoonosis secara multi sektor,” ungkap Anung.

Berita Terkait :Percepat Proses Bisnis Ekspor Produk Olahan Kakao, Kementan Berikan Ini


Lanjut Anung menambahkan fokus pemerintah perlu ditujukan pada vaksinasi anjing, khususnya anjing liar. Selain tentu saja, terus berkampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya rabies. Masyarakat perlu bertanggung jawab dengan anjing mereka untuk mencegah terjadinya gigitan pada manusia dan mengetahui apa yang harus dilakukan jika terjadi gigitan. “Kesadaran publik dan edukasi menjadi elemen penting untuk menyukseskan program pengendalian penyakit rabies” tuturnya. [KAL]

Sumber

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close