Bisnis

Nyerah! 10 Pabrik Tekstil Tutup, Ditinggal Penerus Bisnis – CNBC Indonesia


Jakarta, CNBC Indonesia –Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) masih menebar kabar tak sedap, selain persoalan PHK dan serbuan produk impor, industri ini juga tak diminati generasi muda. Para penerus bisnis TPT ada yang tak mau melanjutkan usaha karena lebih menarik mengembangkan bisnis lain di expertise digital.

- Advertisement -

Ketua Umum API Ade Sudrajat mengungkapkan sampai saat ini ada 9-10 pabrik tekstil yang sudah angkat bendera putih dan menutup usaha. Sayang, Ade tak merinci lokasi pabrik-pabrik tersebut.

Baca Juga:  Waduh, Harga Ninja 250 4 Silinder Bisa Tembus Rp 100 Juta? Ini Jawaban Kawasaki Indonesia - Semua Halaman - Motor Plus

“Ada 9-10 perusahaan stop dan tutup karena generasi kedua tak mau lagi membuat industri tekstil,” kata Ade kepada CNBC Indonesia, Rabu (4/9)

Ia mengatakan industri TPT bagi anak-anak muda sudah tak menarik untuk digeluti, selain persoalan perubahan tren, industri TPT rentan pada masalah seperti gangguan serbuan produk impor, upah tenaga kerja, dan lainnya. Selain itu, bisnisbisnis terbaru dunia digital expertise masa kini dianggap menjanjikan bagi anak muda.

- Advertisement -

“Dalam waktu dan tenaga yang sama, anak-anak muda sekarang pilih bisnis lain daripada tekstil,” katanya.

Baca Juga:  Pabrik Tekstil China Ngaku Dipaksa Masuk RI - detikFinance

Ia mengakui bisnis TPT masih menghadapi persoalan barang impor terutama yang diimpor oleh industri hilir yang saat ini diuntungkan adanya perang dagang. Di sisi lain, industri tengah dan hulu sedang menghadapi persoalan serbuan produk impor.

“Saat ini situasi yang tak pernah dialami hampir 40 tahun terakhir, karena ditimbulkan oleh kondisi world saat ini,” katanya.

Baca Juga:  Pabrik Terakhir Ditutup, Samsung Tak Lagi Bikin Smartphone di Tiongkok - Jawa Pos

Untuk itu, para industri kini kompak mengajukan tarif perlindungan dari produk impor atau safeguard bagi produk TPT. Bila tak dilakukan, nasib industri TPT terutama hulu dan menengah bakal makin tertekan.

“Ini adalah masalah eksistensi hidup atau mati, perlindungan industri dalam negeri untuk devisa yang lebih besar untuk menjaga pasar domestik ini,” katanya.(hoi/hoi)

Sumber

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close