Bisnis

Narada Terancam Gagal Bayar Penempatan Investasi, Ini Kata Pengamat – Indozone.id


INDOZONE.ID –Saham-saham protfolioNaradaAsset Management (NAM) mengalami penurunan dan anjlok hingga angka 25 persen selama tiga hari berturut-turut. Penyebab turunya saham-saham itu lantaran kegagalan membayar bayar fasilitas margin di beberapa perusahaan sekuritas seperti Kiwoom Sekuritas, Samuel Sekuritas, KGI, Mega Capital dan beberapa perusahaan lainnya senilai Rp150 milyar. 

- Advertisement -

Saham-saham NAM yang turun mencakup PT Terregra Asia Vitality Tbk (TGRA) yang mengalami penurunan dari Rp850 per lembar menjadi Rp314 per lembar, PT Dafam Property Indonesia Tbk (DFAM) turun dari Rp1,100 per lembar menjadi Rp466 per lembar, PT Forzaland Indonesia Tbl (FORZ) turun dari Rp900 per lembar menjadi Rp298 per lembar, PT Borneo Olah Sarana Tbk (BOSS) turun dari Rp500 per lembar menjadi Rp179.

Baca Juga:  Streamer ‘Tfue’ Terancam Dibanned dari Twitch Karena Rasis! - Gamedaim.com

Peneliti INDEF, Abdul Manaf Pulungan, menilai anjloknya saham NAM hingga potensi kegagalan membayar penempatan dana nasabah, disebabkan faktor interiorasset managementperusahaan itu sendiri.

“Biasanya dari sisi interior perusahaan karena perusahaanassetitu biasanya mereka menghimpun dana dari domestik dan mereka menjanjikanreturnyang sangat tinggi bagi investor,” ungkap Abdul kepada wartawan, Kamis (14/11).

- Advertisement -
Grafik penurunan saham-saham protfolio Narada Asset Management (Istimewa).
Grafik penurunan saham-saham protfolio Narada Asset Management (Istimewa).

Abdul menjelaskan, ketika perusahaanasset managementitu menetapkanyieldyang tinggi, mereka harus melepaskan  instrumen yang tinggi ke investasi-investasi yang kurangfetch.

“Misalnya, ratingnya katakan di bawah peluang untukdefaultsangat tinggi. Jadi karena ada desakanreturnyang harus dikasih pemilik dana jadi gakfetch,” ungkap Abdul. 

Dengan janji mengembalikanreturnyang tinggi, kata Abdul, para perusahaaan tersebut juga terbiasa untuk membuat profil sebaik mungkin. Namun, tidak memikirkan resiko ke depanya. 

“Biasanya perusahaan (asset management) yang baru cari berkembang biasa cari muka dulu. Mereka yang terpenting populer dulu tanpa memikirkan risiko ke depan. Nah ini yang tidak diawasi oleh otoritas karena dia profilnya di awal-awal bagus, tetapi keterbukaan risikonya tinggi,” beber Abdul. 

Dengan kondisi demikian, Abdul menyarankan agar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bertindak tegas kepada perusahaan asset management NAM yang berpotensi gagal membayar penempatan dana nasabah. 

Baca Juga:  Kei-car Mendominasi Penjualan Daihatsu di Jepang - Kompas.com - KOMPAS.com

Saat ini OJK telah me-drooptransaksi dari NAM. Dengan begitu, NAM hanya boleh menerima pinjaman uang yang sifatnya penyelesaiannya untuk transaksi dealer. 

“Kalau tidak ditindak tegas seperti itu akan berdampak secara sistemik karena satu perusahaan mempunyai hubungan dengan perusahaan lain, dan perusahaan itu juga mempunyai hubungan financial institution. Jadi berdampak dan mengancam sistem keuangan,” pungkas Abdul.

Artikel Menarik Lainnya

    Baca Juga:  Honda Vario 150 Simpel Elegan, Cocok Banget Buat Bahan Contekan - GridOto.com

    Baca Selengkapnya>>>

    Looks like you have blocked notifications!
    - Advertisement -
    Tags
    - Advertisement -
    Back to top button
    Close