Bisnis

Lagi, Jokowi Ancam Gigit Importir Migas – Bisnis Tempo.co


TEMPO.CO,Jakarta– Presiden Joko Widodo kembali mengancam untuk menggigit pihak-pihak yang memberatkan perekonomian Indonesia. Kali ini, giliran importir minyak dan gas yang diancam gigit olehJokowi.

- Advertisement -

“Hati-hati, kalau sampai mengganggu program B20, B30, dan program untuk mengolah batu bara menjadi produk turunan yang bisa menggantikan impor, awas… Saya pasti akan gigit mereka,” tutur Jokowi saat membuka Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2019, di Hotel Raffles Jakarta, Kamis 28 November 2019. 

Baca Juga:  Cair! Waskita Karya (WSKT) Terima Pembayaran Rp2,3 Triliun dari Proyek LRT - Bisnis.com

Sebelumnya,Jokowi juga sempat mengancam akan menggigit orang-orang yang hendak menghalanginya dalam menyelesaikan persoalan yang dihadapi negara. Salah satu persoalannya adalah menghadapi defisit neraca transaksi berjalan dan defisit neraca perdagangan.

“Jangan ada yang coba-coba menghalangi saya dalam menyelesaikan masalah yang tadi saya sampaikan. Pasti akan saya gigit dengan cara saya,” kata Jokowi dalam perayaan HUT ke-8 Partai NasDem di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Senin, 11 November 2019.

- Advertisement -

Adapun pertemuan tahunan BI hari ini dihadiri Presiden Joko Widodo, mantan Wakil Presiden Boediono, para gubernur, Dewan Komisioner OJK, para pimpinan lembaga negara dan pimpinan perusahaan di sektor keuangan dan industri lain. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo pun menyampaikan paparan makro ekonomi dan arah kebijakan moneter dengan tema “Sinergi, Transformasi, Inovasi” dalam pertemuan tersebut.

Baca Juga:  Utang Luar Negeri RI Naik 10%, Tembus Rp 5.534 T - detikFinance

Presiden Jokowi membuka sambutan dengan mengeluhkan kemacetan saat datang menuju tempat acara di kawasan Mega Kuningan. “Tadi macet. Bener-bener macet, berhenti setengah jam enggak bisa jalan. Itulah kenapa Ibu Kota harus dipindah… ” kata Presiden, yang disambut tawa seribuan hadirin.

Dalam pidatonya, Presiden Jokowi memaparkan beragam tekanan terhadap perekonomian Indonesia, yakni ketergantungan pada harga komoditas, impor yang masih lebih besar dari ekspor, defisit neraca berjalan, dan pengaruhnya terhadap volatilitas rupiah.

Baca Juga:  Kemahalan, Moge Listrik Harley Tak Dilirik Konsumen Milenial - Detikcom

Baca Selengkapnya>>>

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close