Bisnis

Harga Rokok Diusulkan Minimal Sebungkus Rp 70 Ribu – Bengkulu Today


Bengkulutoday.com– Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) melalui ketuanya, Tulus Abadi meminta pemerintah membuat standar harga minimal rokok Rp 70 ribu. Hal itu menyikapi rencana pemerintah yang akan menaikkan bea cukai rokok sebesar 23 persen atau naik sebesar 35 persen untuk harga ecerannya.

- Advertisement -

Tulus mengatakan, kenaikan harga merk rokok ternama seperti kategori Sigaret Kretek Mesin (SKM) tidak akan terlalu terdampak oleh kebijakan pemerintah. “Jika dirupiahkan, harga di retail hanya berkisar Rp 10-35 per batang. Nyaris tidak ada artinya dan masih bisa terjangkau oleh konsumen. Kalau pemerintah berniat, saya sarankan patok harga rokok minimal Rp 70 ribu per bungkus,” kata Tulus dalam keterangan rilisnya, dikutip dariTempo.co, Kamis (19/9/2019).

Baca Juga:  Ini Lima Sektor Andalan Indonesia Hadapi Era Industri 4.0 - SINDOnews.com

Sementara itu, harga rokok kisaran Rp 60.000 sampai Rp7 0.000 dinilai ampuh menurunkan jumlah perokok. Perokok bisa saja malah berhenti merokok karena harga rokok yang terbilang sangat mahal. Hal tersebut diketahui berdasarkani Survei Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS UI)

“Harga rokok harus naik dua kali lipat, terutama rokok jenis sigaret kretek mesin (SKM),” jelas Wakil Kepala Pusat Ekonomi dan Bisnis Syariah Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Indonesia Abdillah Ahsan dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, ditulis Rabu (18/9/2019), dikutip dariLiputan6.com.

- Advertisement -

Selama ini, masyarakat banyak mengonsumsi produk rokok SKM golongan 1, dengan harga jual per bungkus berkisar Rp5.000 sampai Rp25.000. Menurut Ahsan, harga tersebut masih jauh lebih rendah sebagai harga excellent yang dapat menurunkan konsumsi atau menghentikan kebiasaan merokok.

Baca Juga:  Curhatan Dirut Krakatau Steel (KRAS) soal nasib perusahaan - Kontan

Berdasarkan knowledge Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, 73 persen pangsa rokok dikuasai rokok kretek mesin (SKM), 21 persen rokok kretek tangan (SKT), dan 6 persen rokok putih mesin (SPM atau rokok filter). Pangsa pasar rokok kretek mesin meningkat 10 persen, dari 63 persen pada 2010 menjadi 73 persen pada 2015.

“Nah, di dalam rokok kretek mesin, pangsa pasar terbesar dikuasai perusahaan rokok golongan 1 (63 persen) yang berproduksi lebih dari 3 miliar per batang per tahun,” lanjut Ahsan.

Kenaikan cukai rokok sebesar 23 persen pada awal 2020 dengan harga jual eceran diperkirakan naik sebesar 35 persen dianggap masih rendah.

Baca Juga:  SNI Ban Vulkanisir Pangkas Ribuan Industri Kecil - CNN Indonesia

Ahsan menerangkan, jika cukai rokok naik sebesar 23 persen, maka harga tertinggi rokok per bungkus akan menjadi Rp35.000 per bungkus.

“Harga jual segitu ya artinya masih belum mencapai harga excellent untuk menghentikan minat merokok pada anak-anak, remaja, dan masyarakat berpenghasilan rendah,” terangnya.

Oleh karena itu, tarif cukai rokok dan harga eceran sigaret kretek mesin golongan 1 sebaiknya lebih tinggi dibanding jenis hasil tembakau lainnya.

“Agar efektif menurunkan konsumsi rokok, maka seharusnya menaikkan cukai tertinggi pada SKM golongan 1 yang menguasai 63 persen pangsa rokok,” tambah Ahsan.

Editor: Bisri Mustofa

Sumber

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close