Berita Terkini

Fakta Baru Aksi Teror Abdul Basith, Berencana Gagalkan Pelantikan Presiden dengan Bom – Megapolitan Kompas.com


JAKARTA, KOMPAS.com– Dosen nonaktif Institut Pertanian Bogor (IPB) Abdul Basithdiduga merencanakan peledakan bom rakitan saat aksi Mujahid 212 di kawasan Istana Negara pada 28 September 2019.

Kasus ini akhirnya dirilis oleh pihak Polda Metro Jaya setelah Baisth dan tersangka lain ditangkap di kawasan Bogor, Jawa Barat, 27 September 2019.

Dalam rilisnya, Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Argo Yuwono merinci kronologi penangkapan dan latar belakang rencana penyerangan pada 28 September 2019.

Kompas.com merangkum beberapa fakta baru kasus tersebut.

1. Rencana kerusuhan tanggal 24 September dianggap gagal

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono mengatakan awalnya rencana kerusuhan massa mengunakan bom rakitan dilakukan pada  24 September 2019 disoar overPejompongan, JakartaPusat.

Baca juga:Polisi: Bom Rakitan yang Disita Bersama Abdul Basith Berdaya Ledak Radius 30 Meter

Namun, aksi yang terjadi pada malam itu dinilai kurang berhasil. Maka, Abdul Basith selaku tersangka yang terlibat dalam peristiwa tersebut menginstruksikan untuk rapat kembali pada tanggal 24 malam.

Baca Juga:  Fakta Baru OTT Bupati Lampung Utara, Warga Potong Kambing hingga Tanggapan Gubernur - Kompas.com - KOMPAS.com

“Maka tanggal 24 (September) malam diadakan rapat permufakatan merencanakan untuk berbuat kejahatan berupa membuat chaos (kerusuhan) dengan medompleng aksi tanggal 28 September aksi Mujahid 212,” kata Argo.

2. Ditangkap sehari sebelum melaksanakan rencana aksi kerusuhan tanggal 28 September

Sehari setelah menggelar rapat tanggal 24 September, Abdul Basith lalu menghubungi teman bernama Laode S untuk mencari Laode A dan Laode N yang ada di Papua.

Abdul Basith kemudian memberikan uang senilai Rp 8 juta kepada Laode S sebagai ongkos Laode N dan Laode A menuju Jakarta. Uang itu juga ditujukan untuk membeli bahan bahan pembuat bom.

Pada 26 September, Laode N dan Laode A tiba di Jakarta dan langsung menuju kediaman Abdul Basith di kawasan Bogor, Jawa Barat.

Pada 27 September, pertemuan kembali digelar di rumah SO. Pertemuan itu dihadiri oleh Abdul Basith, SO, YD, dan Laode S.

Baca Juga:  4 Mitos dan Fakta Kanker Limfoma Hodgkin - Gaya - Tempo

Seusai pertemuan, polisi langsung mengamankan para tersangka.

3. Daya ledak bom milik Abdul Basith beradius 30 meter

Sebanyak 28 bom molotov milik Abdul Basith yang diamankan di kawasan Tangerang memiliki daya ledak hingga 30 meter. Kepala Urusan (Kaur) Peledak Puslabfor Mabes Polri Kompol Heri Yandi mengatakan, bom rakitan itu menggunakan bahan peledak merica, paku, dan deterjen.

“(Bom rakitan) diuji coba diledakkan, kerusakannya cukup kuat, bisa jarak 30 meter,” kata Yandi di Polda Metro Jaya.

Polisi menemukan sejumlah komponen pembuatan bom rakitan, di antaranya deterjen, serbuk korek api yang telah dihaluskan, dan merica.

Yandi mengatakan, merica bisa menimbulkan kerusakan pada mata orang-orang yang berada di sekitar lokasi peledakan.

“Merica sifatnya pedas dengan harapan (saat diledakkan) asapnya bisa melukai mata. Ada juga (barang bukti) paku yang dililit di luar wadah botol, diplakban, dan kalau meledak bisa melukai orang di sekitar kejadian,” papar Yandi.

Baca Juga:  TEREKAM Abu Rara & Fitri Andriana Bersembunyi di Belakang Mobil Sebelum Tusuk Wiranto Videonya Viral - Tribun Timur

4. Abdul Basith berencana ledakkan bom saat pelantikan presiden

Polisi mengungkap motif baru selain kerusuhan tanggal 28 September. Ternyata Abdul Basith diduga merencanakan peledakan untuk menggagalkan acara pelantikan presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin pada 20 Oktober 2019.

“(Motif peledakan) membuatchaos(kerusuhan), kalauchaoskemudian kegiatan prosedural kita bisa berpengaruh. Seperti berpengaruh pada pelantikan DPR dan berpengaruh ke pelantikan presiden,” kata Argo.

Baca juga:Polisi: Abdul Basith Rencanakan Peledakan untuk Gagalkan Pelantikan Presiden-Wapres

Menurut Argo, Abdul Basith awalnya merencanakan aksi peledakan menggunakan bom rakitan di 9 titik di wilayah Jakarta pada 28 September 2019, menunggangi aksi Mujahid 212 di kawasan Istana Negara.

Namun, terkait dengan rencana penggalangan pelantikan presiden dan wakil presiden, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan lebih mendalam untuk menggali informasi baru terkait rencana tersebut.

Sumber

Tags
Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker