Bisnis

Bisnis Sepatu Bayi & Anak Raup Omset Rp 150 Juta per Bulan

Masasih.id – Memang perkembangan usaha fesyen bayi dan anak membuat usaha bidang ini selalu tetap bertahan dan meraup keuntungan yang menggiurkan.  Hal itu bisa dilihat dari para orang tua yang sangat memperhatikan penampilan si buah hati,  mulai dari baju, celana hingga sepatu.

Adalah Larasati Wazar yang ikut mengambil bagian dengan khusus memproduksi sepatu bayi dan anak. Menurut wanita yang akrab disapa Lala ini,  inspirasi membuat sepatu-sepatu bayi dan anak ia dapatkan sewaktu dirinya tinggal di kota Sydney, Australia.

- Advertisement -

“Kelahiran seorang anak merupakan momen terindah bagi setiap orang tua. Tak heran banyak orang tua yang rela melakukan apapun untuk anak mereka, salah satunya soal penampilan.  Melihat hal tersebut, saya pun berpikir untuk mencari usaha yang behubungan dengan bayi dan anak-anak, akhirnya saya putuskan untuk membuat produk sepatu,” jelas Lala.

Bagi Lala, usaha yang berhubungan dengan produk fesyen anak atau balita ini memiliki prospek pasar menjanjikan. Apalagi beberapa bulan terakhir ini, produk berupa sepatu anak dari perpaduan bebahan kulit sintetis dan kain katun  dengan berbagai warna cerah makin banyak dicari.

Alasan inilah yang membuat Lala yakin bahwa usahanya bisa cepat berkembang. Meski demikian usaha dibidang sepatu bayi dan anak juga memiliki persaingan yang cukup ketat. Agar usahanya bisa tetap laku dipasaran, Lala pun selalu membuat berbagai model  sepatu bayi dan anak yang up to date.

- Advertisement -

biasanya ide untuk membuat berbagai model sepatu ini saya dapatkan pada saat saya pergi ke pusat perbelanjaan,” cetus lala.

Baca Juga:  Buka Pabrik di RI, Hyundai Bakal Serap 230.000 Pekerja - detikFinance

Selain dari pusat perbelanjaan, ide untuk membuat model-model sepatu bayi ini juga didapat sewaktu dirinya tinggal di kota Sydney Australia, dari model-model itulah kemudian ia padu padankan dengan model sepatu dewasa yang laris dipasaran.

Sebelum memulai memproduksi sepatu bayi balita tersebut, ia pun mencari berbagai referensi dari berbagai media, hunting di lapangan, hingga mencari di dunia maya. “Waktu pertama kali membuat sepatu dengan dua model yaitu Marry Jane dan Booth ” Ujar Lala.

Setelah mendapatkan model yang tepat  Lala pun langsung memproduksinya dan menjual melalui media online dan beberapa teman-teman dekatnya. Dan ternyata responnya cukup bagus, dalam kurun waktu seminggu, sepatu yang diproduksinya ini sudah habis terjual.

Pada awal merintis usaha sepatu bayi dan balita, Lala hanya membuka secara online melalui jejaring social “Facebook”. Ia mengeluarkan modal sebesar Rp 1.250.000.

Uang tersebut digunakan untuk membeli berbagai perlengkapan usaha seperti bahan kulit sintetis, kain katun, upper sepatu, dan sebagainya. Sedangkan untuk menjahit Ia bekerja sama ke konveksi didaerah Bandung dengan biaya Rp 250 ribu.

“Saya memberikan nama brand MAOO yang diambil dari bahasa plesetan MAU karena ucapan nama anak saya” Jelas Wanita Lulusan Hubungan Internasional, UNPAR, Bandung.

Perjalanan meraih sukses penuh dengan perjuangan, pengalaman pahit dari menghadapi permintaan konsumen yang tidak jelas dan karyawan penjahit yang tidak beres dijadikan pelajaran untuk terus meningkat kualitas produk sepatu bayinya.

Baca Juga:  Sah! BKPM Jadi Lembaga Tunggal Pelaksana Perizinan Berusaha - CNBC Indonesia

Produk. Saat ini Lala sudah memiliki hampir 100 model produk sepatu. Mengenai kualitas, sepatu yang diproduksi Lala ini terbilang memiliki kualitas yang sangat bagus, baik dari segi kerapihan, kelenturan, dan corak warna. Dari segi bahan baku seperti kulit sintetis, kain katun dan uppare Lala juga memilih untuk menggunakan bahan dengan kualitas grade A.

“sepatu-sepatu yang kami buat tidak mudah pudar warnanya dan tidak mengerut, dan tentunya sangat nyaman dipakai dikaki sikecil,” ungkap Lala.

Sepatu bayi yang dibuat Lala memiliki tampilan yang berbeda dari sepatu bayi kebanyakan. Tampilan sepatu yang ekslusif dengan memadukan antara kain dengan uppare membuat bentuk sepatu terlihat lucu. Agar terlihat lebih memikat lagi, selain menggunakan warna-warna cerah, Lala juga menambahkan kombinasi warna antara bagian badan sepatu dengan bagian tali.

Adapun untuk ukurannya sendiri Lala sengaja menggunakan ukuran all size. Pasalnya, desain sepatu yang dibuatnya ini memiliki sifat rajut yang lentur, sehingga bisa menyesuaikan besar kecilnya ukuran kaki bayi.

Harga yang ditawarkan sekitar Rp 50 ribu per pasang sepatu, harga ini bagi sebagian orang memang terlalu mahal untuk sebuah sepatu bayi, namun bila dilihat dari kreativitas dan seni yang ditonjolkan dari sepatu rajut ini, maka harga tersebut bisa dibilang sepadan.

Selain sepatu rajut, model lainnya seperti prewalker shoes juga cukup banyak diminati, adapun untuk harga sepatu prewalker shoes ini dibanderol Rp 115 ribu/pasang, ada pula model prewalker boots yang dibanderol Rp 125 ribu/pasang dan yang cukup laku dipasaran model walker shoes untuk balita dipatok antara Rp 180 ribu-Rp 300 ribu/pasang. Bagi para pembeli yang ingin menjualnya kembali akan diberikan potongan harga antara 10-30% dengan syarat pembelian minimal setengah lusin.

Baca Juga:  Perkiraan Modal Awal Membangun Kontrakan

Pemasaran. Salah satu hal penting dalam menjalankan fesyen sepatu bayi dan balita ini adalah pemasaran. Dan pemasaran yang dilakukan Lala ialah dengan cara menawarkan secara langsung kepada konsumen seperti kepada teman-temannya.

Selain itu menggunakan media internet seperti  Facebook, twitter,  dan website juga dilakukan mereka untuk memperluas pasar produk buatannya. Selain itu, mereka juga mempromosikan produk sepatu ini mengikuti berbagai pameran di berbagai tempat.

Walaupun baru berjalan empat tahun, namun dengan terus mempertahankan kualitas, sepatu bayi dan balita yang diproduksi Lala banyak diminati pasar. “Untuk lebih memikat pasar dan meningkatkan nilai jual dari produk sepatu bayi. Konsep kemasan yang elegan yaitu box tabung yang ekslusif,” ujarnya

Meski hanya memasarkan melalui media internet dan pameran, namun omset yang didapat dari wanita kelahiran Bandung, 6 Mei 1980 cukup menggiurkan, setidaknya dalam sebulan ia bisa menjual tak kurang dari 50 lusin sepatu dengan total omset mencapai Rp 150 juta, dari omset tersebut setidaknya Lala bisa mengantongi laba bersih hingga 30 % atau sekitar Rp 45 juta perbulannya.

Looks like you have blocked notifications!
- Advertisement -
Tags
- Advertisement -
Back to top button
Close